Perusahaan Startup Bikin Komputasi Awan Terjangkau

VIVAnews – Hampir seluruh perusahaan mengencangkan ikat pinggang, menyusuti anggaran untuk infrastruktur TI. Tak perlu belanja server atau data center berlebihan, karena semuanya sudah tersimpan di “awan.”

Komputasi awan, populer dengan istilah cloud computing, adalah solusi ICT yang memungkinkan user menggunakan ataupun menyewa layanan ICT, sedangkan pengelolaan infrastruktur, platform, maupun aplikasi IT services dilakukan oleh penyedia layanan.

Tentu, di sisi konsumen, ini menguntungkan. Karena anggaran bisa ditekan. Tak harus berinvestasi, lebih efisien di sisi biaya dan sederhana.

Pengembangannya, meliputi Infrastructure as a Service (IaaS), Platform as a Service (PaaS), sampai pada Software as a Service (SaaS), yang diantarkan penyedia melalui solusi cloud yang aman.

Mulanya, komputasi awan disebut-sebut hanya untuk perusahaan berskala enterprise atau korporat, karena belum terjangkau oleh perusahaan berskala kecil-menengah. Belakangan mulai bermunculan solusi serupa dengan harga lebih murah.

Nebula One

Bahkan, kini telah muncul perangkat bernama Nebula One, sebuah komputer yang mampu menjadi pusat sistem komando dan kontrol atas puluhan server tradisional. Ringkasnya, perangkat ini mengonsolidasikan sejumlah komputer dalam satu mesin.

Perangkat ini digadang-gadang menjadi komputer penunjang komputasi awan yang bisa diserap secara massal.

Cukup mencolokkannya dengan server-server buatan Dell, Hewlett-Packard, atau IBM, satu komputer Nebula One, bisa mengendalikan seluruhnya, mudah, dengan klik pada mouse dalam satu konsol peranti lunak. Praktis.

Hanya menyisihkan US$100 ribu, atau kurang dari Rp1 miliar, konsumen bisa mendapat manfaat yang sama dengan solusi komputasi awan milik Amazon, Google, atau bahkan Microsoft.

Komputer Nebula One. (Engadget)

Ialah Chris Kemp, pencipta komputer “super” itu. Tak heran, di sekolah tingkat tujuh, pria 35 tahun ini sudah mampu membuat akselarator partikel, menggunakan generator 300.000 volt dan tabung vakum. Sayang, gurunya mengira ayah Kemp turut membantu. Sehingga, projek Kemp gagal mendapat tempat pertama.

Untuk mengembangkan Nebula One, Chris Kemp dibantu puluhan insinyur di satu perusahaan startup. Meski terlihat “kecil”, komputer ini dibangun selama dua tahun di Mountain View, California.

Proyek ini pun menyedot perhatian sejumlah investor top di Silicon Valley. Andy Bechtolsheim, David Cheriton, dan Ram Shriram, tiga triliuner yang juga adalah investor pertama Google, kembali bertemu untuk membicarakan Nebula One.

Ketiganya berani bertaruh, teknologi ini akan menjadi titik pergeseran dramatis dalam dunia komputasi perusahaan dunia, dari solusi konvensional menuju komputasi awan.

“Ini adalah contoh di mana teknologi komputer tradisional sudah ketinggalan dan gagal di pasar,” ujar Bechtolsheim, yang juga pendiri Sun Microsystems.

Sederet perusahaan pembiayaan kondang, seperti Kleiner Perkins Caufield & Byers, Comcast Ventures, dan Highland Capital Partners, juga telah siap mendukung perkembangan startup milik Kemp, Nebula, dengan kumpulan dana fantastis sekitar US$30 juta, setara Rp292 miliar.

Sejak di NASA

Kemp, yang menghabiskan banyak waktunya di NASA sebagai chief technology officer (CTO), kerap memutar otak untuk mengembangkan pusat data yang lebih efisien bagi komputasi perusahaan.

Dia dan sebuah tim insinyur merintis bagian-bagian awalnya, yang sekarang dikenal sebagai OpenStack, peranti lunak yang berfungsi untuk mengendalikan seluruh data center melalui satu komputer.

Untuk mengetahui apakah perusahaan-perusahaan mengadopsi idenya, Kemp membuat OpenStack dalam standar terbuka. Ternyata, pemain besar seperti AT&T, Hewlett-Packard, hingga sekaliber IBM, telah mengadopsi OpenStack dalam layanan komputasi awan mereka, dan menjualnya ke pelanggan.

Sejak itu, Kemp berpikir, bagaimana agar OpenStack dapat diadopsi oleh perusahaan-perusahaan lain, terutama usaha kecil menengah (UKM) secara pribadi, sehingga mereka tidak perlu membayar mahal untuk solusi komputasi awan milik pemain besar.

Bak gayung bersambut, ide Kemp langsung direspons Bechtolsheim saat bertemu di tahun 2011 silam. Sempat menolak, beberapa bulan kemudian, Kemp mempertimbangkannya masak-masak.

“Saya berbicara dengan istri saya dan orang-orang terdekat, ini adalah kesempatan sekalil dalam seumur hidup,” ujar Kemp, dikutip Bloomberg, Rabu 3 April 2013.

Sementara itu, Ted Schlein, konsultan di Perkins Caufield & Byers, mengakui bahwa Nebula telah berkembang cepat. “Seni dari apa yang Chris lakukan adalah membuat peranti ini lebih komersial dan meluas. Sangat jenius,” katanya. (eh)

View the original article here

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: