Aplikasi Anak Bangsa Unjuk Gigi di Nokia Store

VIVAnews – Sepanjang dua tahun ini, Nokia Indonesia gencar membangun ekosistem aplikasi dengan mengakomodasi para pengembang.

Menurut Narendra Wicaksono, Developer Manager Ecosystem and Developer Experience Nokia Indonesia, tujuan dari ekosistem ini adalah menaikkan kualitas aplikasi para pengembang lokal hingga mampu bersaing dengan aplikasi pengembang luar.

“Dari 120 ribu aplikasi di Nokia Store, 5.600 merupakan aplikasi lokal,” kata Narendra usai briefing perkembangan pengembang Nokia di Jakarta, Kamis 4 April 2013.

Melalui ekosistem yang dibangun, Nokia berusaha untuk menjaga aplikasi besutan pengembang agar tetap muncul di pusat aplikasi. “Aplikasi yang bagus, akan kami dukung dan promosikan. Jangan sampai muncul lalu tenggelam,” tandasnya.

Untuk itu, kuncinya adalah pengembang harus giat memperbaharui aplikasi besutannya, sehingga mendapat peringkat bagus di pusat aplikasi.

Sementara itu, Nokia memfasilitasinya dengan wadah kompetisi bertingkat Nokia VIP Developer, Nokia Premium Developer, dan Nokia Competition Developer.

“Karena banyak pengembang yang belum tahu, bagaimana trik unik agar aplikasi mudah dikenal dan bersaing dengan aplikasi global,” tutur Narendra.

Ia menyebutkan, kualitas game untuk Nokia Asha saat ini sudah selevel dengan game populer EA.

Narendra mengambil contoh game Meme Lens besutan pengembang Creacle, aplikasi hiburan untuk kustomisasi wajah. Aplikasi yang rilis pada Desember 2012 itu kini sudah masuk jajaran aplikasi top di Nokia Store.

Meme Lens telah diunduh oleh 60 ribu pelanggan Nokia, di-review 750 penikmat game dan mendapat peringkat 4,5 dari skala maksimal 5.

Ekosistem Nokia juga telah menelurkan game petualangan besutan pengembang Chocoarts, Keto Adventure. Game yang dibuat untuk platform Nokia Asha dan ponsel berbasis Symbian, S40 ini menjadi game petualangan kedua terpopuler di Thailand.

“Keto Adventure kami rilis sejak Febuari 2013. Kini sudah diunduh 130 ribu kali dengan pendapatan US$5.000 (setara Rp48,7 juta),” kata Sely Haudy, pendiri sekaligus Managing Director Chocoarts.

Tantangan Aplikasi

Narendra memandang, model bisnis pengembang yang konsisten membuat produk aplikasi sudah tepat bagi masa depan aplikasi.

“Yang dimaksud dengan produk adalah aplikasi yang punya nilai, mampu mendorong orang untuk mengunduh dan mau membelinya,” ujar Narendra, seperti diberitakan sebelumnya.

Sebab, cara itu sudah tepat untuk menghasilkan pendapatan bagi pengembang. Ia justru mengkhawatirkan jika aplikasi berdasarkan pesanan (proyek) menjadi model bisnis.

“Kalau ini jadi model, bisa turunkan kualitas pasaran. Hanya pengembang yang punya modal besar saja yang punya kesempatan,” katanya.

Model bisnis ini justru sifatnya hanya sesaat, tidak berkelanjutan, dan cara ini kurang berpihak bagi masa depan pengembang. “Dengan model bisnis melalui ekosistem, pengembang didorong untuk fokus membuat produk yang matang dan punya nilai tambah,” ujarnya. (art)

View the original article here

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: